Liburan Tahun Baru 2015-2016 Di Malang

Stasiun Malang


Kereta api Matarmaja tujuan Stasiun Pasar Senen – Malang Kota berangkat tepat waktu pukul 15.15 WIB. Semua perlengkapan tempur sudah dibawa, seperti: sendal, sepatu, baju, obat-obatan, kamera + tripod, hp, charger, dokumen perjalanan dan dompet serta isinya.
Perjalanan menggunakan Kereta Api menempuh waktu sekitar +/- 16 jam perjalanan. Bosan…. Sudah pasti!! Untungnya perjalanan jauh ini Gue ga sendirian, ditemani sama brother in crime, sebut saja Reza Antoni. Mungkin namanya sudah sering disebut di dalam blog ini. Ga jarang selama perjalanan kami sering berselisih paham kemudian bertengkar kecil-kecilan seperti di film kartun Tom and Jerry.

*** Day 1 – 31 Desember 2015 ***

15 menit sebelum sampai di Stasiun Malang Kota, Gue menghubungi tempat penyewaan motor di Malang yang sebulan sebelumnya sudah di booking dan akan menemani adventure Gue selama di Malang. Menunggu selama satu jam dari jam 8-9, motor sewaan baru sampai di meeting point dekat Patung Singa, seberang Stasiun Malang Kota.

Urusan motor beres, kemudian lanjut ke penginapan. Kebetulan penginapan yang kami booking ini termasuk murah tapi tidak murahan. Ternyata waktu untuk checkin jam 12 siang sementara masih harus menunggu 2 jam lagi. Numpang mandi, titip barang kemudian Gue cari sarapan sendiri karena baru saja Gue dan Reza Antoni bertengkar (lagi) hahahaha…. Sudah biasa ini mah, ga lama kemudian baikan lagi.

Museum Angkut+

 

Dengan menggunakan kuda besi yang melaju cepat di tengah panasnya Kota Malang dan dipandu dengan google maps, Gue menarik gas menuju Museum Angkut+. Tiket masuk yang di kenakan sebesar Rp. 120.000/orang sudah termasuk tiket museum topeng + tiket kamera (slr, camdig, handycam).

Gangster town

 

Museum Angkut+ ini menyimpan banyak koleksi angkutan darat dan beberapa juga ada angkutan udara. Di Museum Angkut+ terdapat beberapa tema kota-kota di Dunia. Seperti Gangster Town dengan suasana Broadway, Inggris, Amerika, Italia dan banyak lainnya.

Kemudian masuk ke Museum Topeng yang lokasinya masih berada satu kawasan dengan Museum Angkut+. Kebanyakan koleksi disini sudah pernah Gue lihat di beberapa museum di Indonesia. Jadi kurang begitu tertarik untuk berlama-lama berada di dalam Museum Topeng.

Puas keliling Museum Angkut+, Gue melanjutkan perjalanan ke Batu Night Spectacular. Sebenarnya lokasi BNS tidak begitu jauh dari Museum Angkut+, tapi karena musim liburan kondisi jalanan jadi macet dimana-mana jadi membutuhkan waktu yang cukup lama dari biasanya.

Sore itu di BNS Gue cuma sebentar saja ada disana, entah kenapa kalau melihat dari permainan yang ada disana terasa membosankan dibanding berada di Dufan. Hanya mengambil beberapa gambar kemudian Gue memutuskan untuk ke Alun-Alun Batu.

Akses menuju Alun-Alun Batu banyak yang ditutup dan pengalihan arus lalu lintas, kalau mau parkir juga cukup jauh dari Alun-Alun. Gue memutuskan untuk kembali ke Malang sebelum terjebak macet yang parah, karena akan ada pesta kembang api di Alun-Alun Batu.

*** Day 2 – 1 Januari 2016 ***

Balekambang

Bosan dengan Kota Malang, kali ini Gue menuju Pantai Balekambang yang lokasinya sekitar +/- 60Km dari Kota Malang. Dapat ditempuh dengan kendaraan roda dua atau roda empat.

Perjalanan ke Balekambang ini di luar ekspektasi Gue sebelumnya, kondisi jalanan yang lancar, pantai yang bersih, banyak objek untuk di foto. Semua itu sirna bersamaan dimulainya dengan macet parah sekitar 10Km sebelum sampai di lokasi ditambah ketika berhenti karena macet banyak ulet bulu yang jatuh dari pohon jati di sepanjang pinggir jalan yang membuat gue geli-geli sendiri, sampai di lokasi ternyata sedang ada ibadah haji eh salah maksudnya banyak orang yang duduk-duduk santai di pinggir pantai dan banyak yang buang sampah sembarangan juga. Panasnya udara pantai disini berbeda dengan pantai yang lainnya, terasa seakan matahari berada 1 jengkal di atas kepala.

Speaker
 
Tapi ada satu hal yang mungkin akan mengobati kekecewaan terhadap kondisi Balekembang ini, terdapat hiburan musik gratis disepanjang pinggir pantai. Ada truk besar mengangkut speaker yang ukurannya segede gaban, kemudian volume musik yang di putar di set maksimal. Tinggal pilih mau musik dangdut, ada. Musik house, ada, musik regge, ada. Musik india, ada. Semuanya ada, mungkin kalau request bisa kali ya hahahaha…
Setelah dari Balekambang, perjalanan dilanjutkan memuju Alun-Alun Batu karena kemarin belum sempat dateng ke sini. Taman hiburan bagi masyarakat Malang dan Batu ini sangat cocok untuk melepas penat santai di sore hari bersama keluarga. Tidak jarang juga Gue melihat (sebut saja) cabe-cabean atau terong-terongan Malang bertebaran disini, baik itu cewek cowok yg sedang pacaran, sesama cewek atau cowok sama cowok yang doyan selfie, entahlah… Gue ga mau tau dengan mereka, tujuan gue adalah hunting foto disini sambil menunggu malam.
*** Day 3 – 2 Januari 2016 ***

Oen

 

Jadi sebelum sampai di malang, sebulan sebelumnya Gue kenal dengan seorang warga Malang dari salah satu komunitas jalan-jalan, sebut saja namanya Kevin atau panggil saja Kev, Evin, Evi atau Vin biar akrab. Katanya kalau gue ke Malang disuruh kontak biar diajak melihat tempat-tempat menarik di malang.

Pagi ini diawali dengan sarapan Rawon Nguling yang sudah sangat melegenda bagi setiap wisatawan yang datang ke Malang. Lokasinya ga jauh dari penginapan, cukup jalan kaki sekitar kurang lebih 5 menit sudah sampai, tapi butuh pengorbanan untuk mendapatkan seporsi rawon nguling ini. Buka dari jam 7 pagi – jam 4 sore, antriannya cukup banyak dan panjang.

Sebelumnya Gue udah janjian mau dijemput Kevin di Hotel jam 10. Motoran keliling Malang dan tujuan pertama adalah Ice Cream House Oen. Beruntungnya Gue bisa mencicipi secara gratis es krim yang sangat melegenda ini karena mempertahankan cita rasa dan bangunannya yang dari jaman dulu berdiri sampai sekarang. Kenapa Gue bisa mendapatkan secara gratis? Panjang ceritanya….

Untuk urusan rasa, es krim home made ini terasa lembut ketika di sendok dan masuk ke mulut. Berbagai pilihan rasa bisa dipilih disini. Tidak hanya menjual es krim, toko oen juga menjual berbagai cemilan khas sebagai makanan pelengkap untuk disantap bersama es krim.

Kevin mengajak gue keliling Malang untuk melihat berbagai peninggalan beberapa bangunan tua yang kelestariannya masih terjaga, beberapa model rumah pada jaman penjajahan Belanda sebagian masih tetap eksis berdiri ditengah pesatnya pembangunan modern, serta beberapa gereja tua yang sampai saat ini masih digunakan umat kristiani untuk beribadah.

Untuk mencari oleh-oleh, kevin menyarankan untuk beli di Toko Lancar Jaya. Toko ini menyediakan berbagai cemilan khas malang seperti keripik buah dan tempe. Untuk harga relatif terjangkau, mau yang lebih murah lagi? Silahkan datang ke toko sebelahnya. Oh ya gue juga sempat mencicipi minuman khas Malang, “Sari Apel Malang” yang di belikan Kevin. Kebetulan cuaca Malang sedang panas dan sangat cocok minum minuman ini.

Seakan masih belum puas dengan kehidupan siang hari Kota Malang, Kevin mengajak gue untuk ngopi ngopi ganteng malam hari di salah satu cafè yang punya cabang di Batu dan Jogja. Ga ada salahnya jadi anak gaul Malang biar kekinian dan ngehits, pulang sampai jam 2 dini hari. Ternyata banyak yang belum Gue ketahui sisi lain dari Kota Malang dan Kevin menceritakan sebagian sisi lain Kota Malang yang dia ketahui.

*** Day 4 – 3 Januari 2016 ***

DSC_1660
Gue, Reza Antoni, Kevin (Dari Kiri – Kanan)

Last day di Malang setelah checkout dari hotel, Kevin menawari untuk mampir sebentar ke rumahnya dan nitip tas sebelum ke Stasiun untuk kembali ke Bandung – Jakarta. Kemudian diajak ke Candi Singorasi yang merupakan candi Hindu-Buddha peninggalan bersejarah Kerajaan Singasari. Lokasinya berada di Jl. Kertanegara, Singosari, Malang, Jawa Timur, sekitar 10-12 Km dari Kota Malang. Hanya terdapat satu Candi dan beberapa artefak seperti patung Hindu-Buddha.

Bakso President

Sebelum ke stasiun kita mampir sebentar untuk makan siang di Bakso President yang merupakan salah satu kuliner khas Kota Apel ini. Cita rasa baksonya yang original dan dagingnya yang lembut membuat siapa saja yang makan pasti ketagihan untuk mencoba lagi, selain itu lokasinya yang berdekatan dengan rel kereta api menjadikan Bakso President ini unik dan khas.

Hujan gerimis menemani perjalan gue, Reza Antoni dan Kevin yang turut mengantar ke Stasiun. Perjalanan ke Malang kali ini dipenuhi dengan kearifan dan keramah-tamahan warga lokal seperti Kevin yang siap membantu para wisatawan yang datang ke Kota Malang. Sedih rasanya harus meninggalkan Kota yang damai ini karena keterbatasan cuti kerja yang mengharuskan Gue kembali ke Ibu Kota. Semoga bisa kembali lagi ke Malang dengan cerita perjalanan yang berbeda.

Please share, follow and like us:
  1. Makanya itu pengen balik lagi ke sana tahun ini. Pengen ngerasain suasana yg bukan di hari besar seperti tahun baru kemarin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes:

<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>