3 Hari 2 Malam di Ho Chi Minh City

** Day 1 **

November 2015 lalu gue berhasil meng-eksekusi tiket promo AirAsia free seat dan hanya membayar airport tax saja dengaan tujuan Kuala Lumpur – Ho Chi Minh City, total harga tiketnya sekitar 700ribuan pergi-pulang dan untuk keberangkatan 9 bulan kemudian. Singkat cerita perjalanan ke HCMC gue ditemani oleh Uchie dan Edo, mereka berdua sepupuan. Tapi mereka tidak satu penerbangan dengan gue, melainkan transit di Singapore, karena mereka membeli tiket 1 bulan sebelum keberangkatan dan hanya tiger yang menawarkan harga PP 1.2 juta, sedangkan AirAsia sendiri diatas 1.2 juta.

Me, Uchie & Edo

Me, Uchie & Edo

Kita janjian untuk bertemu di Terminal 2 Soekarno Hatta. Sudah gue duga sebelumnya kalau pesawat yang akan gue tumpangi akan mengalami keterlambatan dan benar saja delayed 35 menit. Setelah keluar imigrasi Kuala Lumpur gue langsung mencari wifi gratisan yang ada di bandara untuk mengabari Uchie dan Edo kalau gue sudah sampai dan sambil makan malam di Subway. Keesokan paginya gue melanjutkan perjalanan ke HCMC dengan menggunakan AirAsia lagi. Setibanya di Tan Son Nhat Airport gue tidak buru-buru keluar imigrasi karena sudah janjian untuk menunggu Uchie dan Edo. Benar saja tidak berapa lama mereka muncul dari gate yang tidak jauh gate kedatangan pesawat airasia yang gue tumpangi.

Tidak ada masalah ataupun pertanyaan ketika berada di imigrasi HCMC. Keluar dengan santai dan langsung menuju money changer yang tidak jauh lokasinya dari imigrasi. Tepatnya di sebelah kiri dekat eskalator turun keluar imigrasi. Kemudian kami turun ke bawah untuk membeli provider Vinaphone. Setelah urusan selesai kami langsung keluar bandara berbelok kiri untuk mencari bus 152 menuju district 1 Ho Chi Minh City. Ternyata ada 1 bus yang ngetem disini, tidak berapa lama kemudian bus berjalan menyusuri Kota Saigon yang sekarang namanya Ho Chi Minh City.

Sampai di district 1 langsung ke McD untuk makan, melihat menunya ada satu yang tidak halal tapi kami ambil amannya saja untuk pesen chicken burger. Kalau makan di Ho Chi Minh City harus hati-hati karena banyak makanan tidak halal tapi masih ada juga restoran  yang halal. Setelah makan kami menuju hostel, checkin dan beberes kemudian menuju 23/9 Park untuk naik bus menuju Bến xe Củ Chi (terminal Cu Chi).

Didalam Bus No 13 yang disupiri seorang bapak yang baik hati memberikan kami password wifi. Benar, didalam bus yang mirip dengan metro mini AC ini  tersedia wifi dan CCTV, bahkan kondisi busnya masih lebih bagus metro mini AC 640! Ternyata untuk transportasi umum di Ho Chi Min City lebik baik dari Indonesia demi keamanan penumpang hampir setiap bus terpasang CCTV, tersedia juga wifi, tidak ugal-ugalan dan yang pasti asap knalpotnya hampir tidak ada. Walaupun kondisi bus yang sudah terlihat usang tapi masih dirawat dengan baik.

Sebenarnya perjalanan bisa lebih cepat dengan waktu tempuh hanya dengan 1 jam saja tapi entah kenapa bus 13 yang kami tumpangi ini jalannya sangat lamban, hanya sekitar 20-40 Km/h. Gue, Edo dan Uchie bahkan sempat tertidur pulas – bangun – dan tidur lagi tapi bus belum juga sampai ke terminal Cu Chi. Jalan lurus didepan mata seakan tiada berujung ini semakin membuat perjalanan semakin lama.

Entrance to the tunnel

Entrance to the tunnel

Sesampainya di terminal Cu Chi, kami langsung ganti bus lagi yang bernomor 79 dengan tujuan Cu Chi Tunnel. Sama seperti bus sebelumnya, kondisi bus juga sama bahkan kecepatannya juga sama. Untuk waktu tempuh dari Terminal Cu Chi ke Cu Chi Tunnel sekitar 1 jam. Tidak hanya kami bertiga yang ingin ke Cu Chi Tunnel, ada sepasang lelaki dari Jerman yang ingin mengunjungi Cu Chi Tunnel juga. Sampai di pintu masuk Cu Chi Tunnel kami langsung menju loket untuk membeli tiket masuk dengan harga VND 90.000,- dan langsung menuju ke dalam. Sebelum masuk lebih jauh kami menjumpai Bến Dược Memorial Temple yang merupakan kuil yang dibangun untuk mengenang jasa-jasa para pahlawan Vietnam yang gugur dalam perang melawan tentara Amerika dan tentara Perancis.

Bến Dược Memorial Temple

Kemudian tibalah saatnya untuk melihat sisa-sisa perjuangan tentara vietnam melawan tentara Amerika dan melawan tentara Perancis. Terdapat satu gazebo yang sedang memutar film perang vietnam dan proses penggalian terowongan. Setelah menyaksikan film tersebut, Mr. Han selaku leader tour menjelaskan kepada kami secara singkat tentang terowongan bawah tanah yang panjangnya 250 KM dan kedalaman hingga kurang lebih 10 meter dari permukaan tanah.

Kami diajak untuk melihat terowongan bawah tanah tersebut ada beberapa terowongan yang sengaja dibuka untuk umum dan diperbaiki kondisinya agar para wisatawan bisa merasakan langsung bagaimana rasanya berada dibawah sana. Ada juga terowongan yang tidak boleh dimasuki oleh wisatawan karena kondisinya memang sudah tidak dimungkinkan lagi untuk dimasuki banyak orang. Kami ditangan oleh Mr. Han untuk masuk kedalam lobang tersebut, kondisi didalam sudah dipasang penerangan dan juga sangat sempit, sehingga jika ingin menuju terowongan yang satu dengan terowongan yang lainnya harus jalan merunduk dan berhati-hati agar kepala tidak terbentur dengan langi-langit terowongan yang sangat pendek.

Untung badan gue kecil jadi masih bisa masuk

Setelah tour selesai kami diajak untuk  isitirahat sebentar dan disuguhkan singkong rebus dan kacang yang ditumbuk kasar sebagai cocolannya. Kemudian Mr. Han bertanya ke gue “where you come from?”, “Indonesia” jawab gue, kemudian Mr. Han bilang “in Indonesia it called Singkong, right?”. Gue agak sedikit terkejut darimana dia bisa tau bahasa Indonesianya Singkong, ternyata dia menjelaskan banyak orang Indonesia yang sering datang ke Cu Chi Tunnel dan dia bertanya ke beberapa orang Indonesia yang sebelumnya pernah datang ke sini.

Kami segera bergegas pulang karena sudah hampir pukul 5 sore, karena bus terakhir yang lewat dari Cu Chi Tunnel sekitar pukul 5.30. Perjalanan pulang dari Cu Chi Tunnel ke terminal Cu Chi menggunakan bus No.79 terasa lebih cepat dibandingkan dengan perginya tadi. Begitu juga dengan perjalanan dari terminal Cu Chi dengan bus No.13 terasa lebih cepat, tapi begitu memasuki wilayah District 1 jalanan mulai terlihat macet karena aktivitas jam pulang kantor. Kami turun di Halte 175 Phạm Ngũ Lão yang lokasinya tidak jauh dari Hostel kami. Setelah sampai dihostel istirahat sebentar dan mandi.

Setelah cukup istirahat dan gantian mandi saatnya kami berburu wisata kuliner malam di sekitar Ben Thanh Market. Suasana night market sudah mulai terasa, pedagan mulai mejajakan dagangannya disekitar luar dari Ben Thanh Market. Untuk lokasi makan malam kali ini kami mencari makanan yang halal dan lokasinya tidak jauh dari Ben Thanh Market, di sekitar Nguyễn An Ninh Street ini banyak yang menjual makanan khas malaysia jadi kami tidak perlu khawatir soal kehalalan restorannya. Kami memutuskan untuk makan di Hjh Basiroh Halal Restaurant, gue memesan Pho 2000, Uchie memesan Kari, sedangkan Edo memesan Nasi Goreng.

Porsi makan malam kali ini terbilang cukup banyak dan harganya cukup terjangkau kantong backpacker dan sudah pasti dijamin Halal. Kemudian kami melanjutkan untuk berburu oleh-oleh, yang khas dari Vietnam adalah kopi. Uchie belanja magnet, dompet, lukisan, tas dan banyak lagi. Edo belanja magnet tempelan kulkas, sama pajangan pigura tentang vietnam. Sedangkan gue? Sama seperti Edo!

Pho 2000 Hj Basiroh Halal

Pho 2000 Hj Basiroh Halal

Oh ya kalau belanja di Night Market harus pintar menawar sebab jika tidak ditawar maka harganya selangit dan jangan pernah terpatok pada satu toko saja, tapi bandingkan dengan toko lain yang kadang menawarkan harga jauh lebih murah. Setalah puas belanja kami memutuskan untuk kembali ke Hostel dan beristirahat untuk melanjutkan perjalanan besok city tour Ho Chi Minh City.

** Day 2 **

Pagi hari hujan baru saja selesai turun dan gue bertugas untuk membangunkan 2 orang yang masih terlelap dalam tidur. Jam sudah menunjukkan pukul 7 pagi tapi gue bilang ke mereka sudah pukul 8 biar segera bangun dan beberes packing. Ya, hari ini merupakan hari terakhir Edo dan Uchie di Ho Chi Minh City karena pukul 5 sore nanti mereka harus terbang ke Singapore.

 

Setelah semuanya beress kami langsung pergi ke arah Ben Thanh Market untuk menuju tujuan pertama, tapi seakan kurang puas belanja semalam, Uchie dan Edo malah belanja baju untuk oleh-oleh lainnya, sedangkan gue cuma menemani mereka saja. Setelah belanja kami menuju destinasi pertama yaitu Ủy ban Nhân dân Thành phố Hồ Chí Minh atau City Hall Ho Chi Minh City alias Balai Kota Ho Chi Minh City.

Meskipun bangunan kolonial yang elegan ini tidak terbuka untuk umum, banyak wisatawan yaang berfoto di depan bangunan ini. Begitu juga dengan kami bertiga yang harus menunggu lama sepi dari wisatawan untuk berfoto nyatanya banyak wisatawan yang datang silih berganti untuk berfoto dengan latar belakang bagunan mempunyai arsitektur ala Perancis tersebut.

Setelah menyerah untuk berfoto dan menunggu sepi kami melanjutkan berjalan kaki ke daerah Công xã Paris, disana terdapat Saigon Post Office dan Notre Dame Cathredal. Pertama kami mengunjungi Post Office dan Uchie mengirim surat ke beberapa temannya yang gue tau ke Korea dan Jepang, gue juga mengirimkan surat untuk mantan, sedangkan Edo hanya membeli kartu pos dan tidak untuk dikirim.

Kartu pos untuk mantan

Kartu pos untuk mantan

Notre Dame Cathredal

Kemudian kami menyeberang jalan menuju Notre Dame Cathredal, karena kondisinya ramai wisatawan yang datang silih berganti kami hanya berfoto sebentar saja, kemudian hujan turun dan kami berteduh sambil makan siang di McD dekat Post Office. Dengan mengucapkan bismillah dan berkata dalam hati “semoga chicken burger ini tidak mengandung babi” gue melahap burger yang ukurannya cukup besar dan tebal.

Perjalanan berikutnya menuju Reunification Palace, sayangnya ketika kami sampai disana penjualan tiket sedang istirahat makan siang dan akan buka kembali pukul 1 siang. Akhirnya kami memutuskan untuk ke Museum Ho Chi Minh City tapi ditengah perjalanan kami disetop pedagang kelapa muda. Awalnya dia menawarkan ke gue untuk mencoba membawa keranjang dagangannya kemudian dia menawarkan ke gue kelapa muda. Gue pikir ini hadiah karena sudah mau mencoba membawa keranjangnya dan gue tanya “it is free?”, kemudian dia menjawab “ya ya ya” sambil menyodorkan kelapa muda yang sudah dibelah, tapi gue tetap menolak.

Kemudian gue memanggil Uchie yang sudah berjalan didepan, maksudnya untuk menunggu kami tapi entah kenapa malah menghampiri dan tiba-tiba Edo sudah meminum air kelapanya. Belum sempat gue ngomong ke Edo tiba-tiba Uchie mengambil kelapanya dan meminum. Gue bingung dengan apa yang terjadi dan gue bertanya lagi untuk menegaskan ke penjual kelapa tersebut “it is free?”, “5000 dong” jawabnya. Bangsat!!! untung gue ga ikutan minum sementara Edo dan Uchi melongo dan terpaksa membayar. Buahahahaha bangke banget itu penjualnya.

Reunification Palace

Reunification Palace

Hati-Hati kalau ditawari kelapa muda sama abang ini, awalnya free tapi akhirnya disuruh bayar

Hati-Hati kalau ditawari kelapa muda sama abang ini, awalnya free tapi akhirnya disuruh bayar

Karena sudah bad mood ditipu penjual kepala kami memutuskan untuk kembali ke Hostel dengan berjalan kaki dan tidak jadi ke Museum Ho Chi Minh City. Sampai di Hostel Edo dan Uchie langsung check out, sedangkan gue pindah kamar yang single room. Sambil nunggu Uchie dan Edo beberes lagi, gue istirahat sebentar sambil nge-cas baterai hp dan kamera.

Uchie dan Edo pamit meninggalkan gue menuju bandara dan gue mengantarkan merak ke terminal Ben Thanh, setalah bus jalan meninggalkan gue menuju bandara, gue kembali melanjutkan City Tour sendirian. Kali ini tujuannya ke Masjid Musulman (Saigon Central Mosque), Masjid ini merupakan satu-satunya Masjid yang ada di Ho Chi Minh City. Karena masih ada waktu untuk dzuhur gue menyempatkan untuk solat dan setelah solat meminta ijin ke penjaga Mesjid untuk mengambil beberapa foto.

Dari Mesjid Musulman gue melanjutkan jalan kaki ke Saigon Opera House yang dibangun pada tahun 1897 dengan desain arsitektur bergaya Perancis oleh Eugène Ferret yang terdiri sekitar 800 kursi penonton. Gue tidak sempat masuk ke dalam karena sedang tidak ada pertunjukan pada saat itu, jadi gue memutuskan untuk ke lokasi berikutnya.

Gue sudah sampai di depan Saigon River tepatnya di taman yang terdapat patung Trần Hưng Đạo yang merupakan Panglima tertinggi Vietnam pada masa Dinasti Trần Dynasty. Dia memerintahkan prajurit Vietnam untuk melawan penjajah dari pasukan Mongol pada abad ke 13. Setelah mengambil beberapa foto gue melanjutkan ke seberang jalan dan menurut informasi yang gue dapat disini terdapat tour sungai saigon. Tapi sayangnya begitu sampai dilokasi gue tidak mendapatkan informasi terkait Tour Saigon River dan melanjutkan ke destinasi berikutnya.

Saigon Opera House

Saigon Opera House

Masjid Musulman

Masjid Musulman

Trần Hưng Đạo

Dengan berjalan kaki menyusuri tiap sudut kota Ho Chi Minh City gue kembali ke Post Office, Notredame Cathedral dan Reunification Palace untuk mengambil beberapa foto dan video yang sebelumnya masih kurang puas berada di lokasi tersebut karena masih bersama Edo dan Uchie dimana waktu mereka sempit sekali untuk berlama-lama City Tour dan harus segera ke Bandara.

Sekitar pukul 5 sore gue sudah kembali ke Hostel dan istirahat sebentar karena kaki terasa pegal akibat jalan kaki. Jadi buat yang mau tau seperti apa rute gue hari ke-2 di Ho Chi Minh City dengan berjalan kaki, silahkan lihat map dibawah, semoga ga pusing dan ga ikutan pegel ya hehehe. Kayaknya gue udah bisa dinobatkan sebagai backpakcer sejati atau Travel Blogger Indonesia sejati yang doyan jalan kaki. Kenapa gue milih jalan kaki di Ho Chi Minh City? Nanti gue jelasi di postingan berikutnya.

Malam hari gue makan di restoran Hj. Basiroh lagi dan kali ini gue pesan nasi goreng seafood, udah beberapa hari ini gue ga makan nasi, sebagai orang Indonesia tulen gue ga bisa lepas dari yang namanya nasi. Selama perjalanan ini gue jarang nemu makanan yang dihidangkan dengan nasi, kalaupun ada pasti ga hala. Di Ho Chi Minh City mayoritas penduduknya pada doyan makan Pho atau olahan Mie. Setelah makan gue mencari kopi vietnam untuk oleh-oleh.

Last day!

Matahari belum terlihat, hari masih gelap, penjual roti keliling belum keluar tapi gue udah harus check out dari hotel pukul 5 pagi karena harus mengejar penerbangan ke Kuala Lumpur pukul 7.55 pagi. Sampai di terminal bus Ben Thanh gue menuggu bus 152 tapi satu jam lebih gue menunggu tidak mendapati bus tersebut, akhirnya gue menggunakan bus 109 yang berwarna kuning untuk menuju bandara. Tarif bus ini 2 kali lipat lebih mahal dari bus yang 152 karena rutenya hanya ke bandara saja, jadi bisa lebih cepat sampai di bandara.

Pukul 7.15 gue sudah sampai di bandara dan langsung checkin di menit-menit terakhir, gue sempat ditanya oleh petugas konter checkin “do you bring tripod?”, “Yes” jawab gue singkat, kemudian dia menjelaskan kalau peraturan dibandara tripod kamera tidak boleh masuk ke dalam kabin dan menyarankan gue membeli bagasi seharga USD 153. “WHAT? USD 153?” gue hampir teriak karena terkejut. Kemudian dia menyarankan kalau tidak mau beli bagasi langsung saja masuk ke security checkin, kadang tripod tidak diperiksa dan lolos tapi kadang tidak.

Sialnya gue disuruh ke keluar dan harus menitipkan tripod gue di bagasi. Karena waktu boarding semakin dekat, gue ga punya waktu banyak dan ga mau mubazir mengeluarkan uang sebesar USD 153 hanya untuk satu tripod yang harganya tidak lebih dari 200ribu rupiah maka gue pergi ke toilet dan melihat ada toilet yang gelap dan meninggalkan tripod kesayangan gue disitu. Sedih? Pasti! Tapi mau gimana lagi karena sudah kebijakan, harga bagasi yang mahal banget dan gue ga punya waktu banyak harus melakukan semua itu.

Kemudian gue mengantri lagi di security checkin dan lolos tidak ada masalah. Gue kira sudah cukup cobaan pagi ini di Bandara, ternyata masih belum usai ujian gue disini. Melihat antrian Imigrasi gue udah lemes dan pasrah kalau harus ketinggalan pesawat sementara waktu boarding tinggal 20 menit lagi. Akhirnya ada satu bapak-bapak yang mengajak gue untuk memotong barisan karena dia punya akses cepat ke barisan paling depan. Gue ikuti dia dan ga berapa lama sampai di depan dengan menyerobot antrian banyak orang, yang anehnya tidak ada satupun yang marah atau menunjukkan sikap marah ke gue.

Setelah keluar imigrasi gue langsung lari ke Gate 17, dimana sudah banyak orang yang menunggu untuk boarding. Baru sebentar gue duduk eh ternyata gate pindah ke gate 16 karena gate 17 dipakai oleh maskapai Tiger yang baru saja mendarat. Tidak lama setelah berada di gate 16 akhirnya panggilan boarding dan gue pergi meninggalkan Ho Chi Minh City dengan suka dan duka cita.

By the way, terima kasih mba olenka – backpacklogy.me yang sudah memberikan buku gratisnya ke saya dan membawa saya terbang ke Ho Chi Minh City.

backpacking vietnam by olenka

backpacking vietnam by olenka

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes:

<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>