13 Jam Tektok ke Gunung Gede

Masih ingat dengan cerita gue ke Gunung Gede bersama Acen, Ikus dan lain-lain? Kalau lupa kalian bisa klik cerita: Pendakian Gunung Gede. Waktu itu gue bersama yang teman-teman pendaki melakukan pendakian selama 3 hari 2 malam dengan catatan bermalam di Alun-Alun Suryakencana dan Kandang Badak. Tapi untuk cerita pendakian kali ini ke Gunung Gede hanya membutuhkan waktu 13 jam saja!

Bersama Fraga (si hati kaki mati rasa), Fahmi, dan Rona (si kaki gemetar), kami melakukan pendakian medadak yang hanya kurang dari 2 hari sebelum hari H gue men-iya-kan ajakan mereka. Awalnya gue gak yakin dengan ajakan Fahmi yang mengatakan bisa tektok Gunung Gede. Setelah gue baca-baca berbagai tulisan yang membahas tentang tektok Gunung Gede, akhirnya gue percaya ternyata bisa lho tektok ke Gunung Gede sekitar 12 sampai 14 jam.

Tepat pukul 6 pagi kami mulai melakukan perjalanan lewat jalur Cibodas. Beberapa jam sebelumnya ketika kami sampai di pos pendaftaran Fahmi sudah mengurus perizinan untuk mendaki Gunung Gede lewat Cibodas dan turun lewat jalur Putri. Bagi Landscaper banyak sekali spot untuk hunting foto seperti gambar dibawah ini.

A post shared by Reza Fahlevi | Portrait (@reza.fahlv) on

Jalan setapak berbatu menyerupai anak tangga menghantarkan kami ke pos pertama: Panyangcangan, jarak tempuh dari pintu pos dibawah sekitar satu jam. Terlihat banyak teman-teman pendaki yang sedang istirahat atau sarapan pagi. Dari pos ini terlihat berbagai petunjuk arah ke beragai tujuan. Puncak Gede jaraknya 8.5 KM, Puncak Pangrango 10.5 KM, Air Panas 8 KM dan juga ke arah Air Terjun Cibereum.

Masih dengan jalan setapak anak tangga berbatu, tidak terasa sudah dua jam perjalanan gue berada di depan sendirian sementara yang lainnya jauh tertinggal setelah melewati pos Panyangcangan. Ketika sampai di pos: Shelter Batu Kukus 2 terlihat 3 orang pendaki yang berasal dari Jakarta sedang beristirahat dan berfoto.

Gue pun melanjutkan perjalanan, jalan setapak berbatu menyerupai anak tangga perlahan tergantikan dengan kontur tanah yang cukup terjal dibeberapa tempat. Sudah 2 jam 30 menit gue berjalan dan masih memimpin di baris terdepan, kini gue sampai di Air Panas. Ketika melewati Air Panas ini harus berhati-hati karena jalan berbatu yang licin dan air yang cukup panas. Berhubung teman-teman gue masih jauh tertinggal dibelakang, tidak ada salahnya istirahat sejenak sambil merendam kaki ke kolam air panas yang terakhir, lumayan untuk menghilangkan rasa pegal sejenak.

Tidak jauh kaki melangkah dari air panas gue dan teman-teman yang lain tiba di pos: Kandang Batu. Istirahat sejenak sambil nge-vape rasa Yakult yang di sponsori oleh Fahmi. Kembali melanjutkan perjalanan yang semakin berat dan terjal, irama nafas mulai 1-2 (satu nafas – dua langkah).

Empat jam perjalanan akhirnya tiba di pos terakhir: Kandang Badak. Terlihat masih sedikit pendaki yang mendirikan tenda disini dan ada juga beberapa “pendaki kilat” yang sedang istirahat sambil nyemil gorengan. Karena gue berada dibaris terdepan dan menjaga prinsip setia kawan, gue tidak mau mendahului jajan gorengan atau pesan mie instan. Ketika mereka sampai gue, fahmi dan fraga langsung pesan mie instan yang siap seduh dalam cup, sedangkan Rona pesan susu jahe dan gorengan saja.

Aaahh… Energi telah kembali dan saatnya melanjutkan perjalanan menuju puncak yang tinggal sedikit lagi. Tapi sialnya, ketika baru saja sampai di pertigaan jalan menuju puncak Gunung Gede dan Gunung Pangrango, gue dan fahmi mendapatkan panggilan alam, mau tidak mau harus turun lagi ke pos: Kandang Badak untuk me-release panggilan alam tersebut dan kami berdua ketinggalan jauh dengan Fraga dan Rona.

Melanjutkan perjalanan, gue dan Fahmi akhirnya sampai di Tanjakan Setan. Entahlah… gue ga ngerti kenapa disebut dengan Tanjakan Setan, yang gue rasakan ketika menaiki Tanjakan Setan ini jatung rasanya mau copot. Apalagi sebenarnya gue takut ketinggian (tapi malah naik gunung), walaupun sebenarnya ada jalur alternatif tapi jalurnya lebih parah dan yang pasti membuat perjalanan menjadi lambat.

Setelah melewati Tanjakan Setan, tantangan berikutnya adalah tanjakan berbatu ditambah bonus akar pohon yang keluar dari tanah. Nafas kini tinggal 1-1 dan tidak jarang gue dan Fahmi berhenti setiap dua atau tiga langkah. Duh Gusti, cobaan ini begitu berat untuk melihat keindahan ciptaanMu.

Gunung Gede

Puncak Gunung Gede 2958 MDPL

Tepat 6 jam 30 Menit (seharusnya bisa lebih cepat) perjalanan menuju puncak Gunung Gede, gue disambut dengan hembusan angin kencang dan awan tebal yang silih berganti menjadi awan tipis, akhirnya sampai juga diatas tapi belum benar-benar di puncak. Eh, ada mamang tukang gorengan lagi! Santai sejenak sambil nyemil gorengan yang harganya (Rp. 2.000/gorengan) buat miskin anak kos.

Hah… sudahlah! lupakan gorengan yang buat kantong tipis, sekarang sudah diatas walaupun telat karena tragedi panggilan alam. Masih butuh sedikit perjuangan untuk sampai di titik paling atas Gunung Gede 2958 MDPL. Disuguhi keindahan alam seperti ini siapa yang tidak akan merasa dirinya kecil dihadapan sang pencipta? Gue merasa berdosa besar kalau sampai merusak alam yang indah ini, tapi sayangnya ada saja oknum yang melakukan vandalisme diatas Gunung Gede, terlihat beberapa coretan dibeberapa batuan besar.

Gunung Gede

Alun-Alun Suryakencana

Tidak perlu berlama-lama berada diatas puncak Gunung Gede, mengingat kami harus segera turun sebelum hari semakin gelap. Perjalanan turun kami melewati Alun-Alun Suryakencana, gue yang berada diposisi paling depan tidak menyia-nyiakan kesempatan untuk langsung hunting foto Anaphalis javanica atu lebih terkenal dengan sebutan bunga eidelweiss.

Setelah puas berada di Alun-Alun Suryakencana, kami melanjutkan perjalanan turun gunung melalui jalur putri. Sekitar pukul 15.30 WIB kami meninggalkan Alun-Alun Suryakencana. Sepanjang perjalanan turun terlihat banyak pendaki yang belum sampai ke atas. Gue memperhatikan beberapa jenis pendaki disini, mulai dari anak sekolahan, ukhti yang menjawab salam gue, anak kecil yang ikut orang tuanya, rombongan kokoh kokoh dan cici cici, sampai orang tua yang ingin bernostalgia.

A post shared by Reza Fahlevi | Portrait (@reza.fahlv) on

Perjalanan turun seharusnya bisa lebih cepat dari jadwal yang diperkirakan, tapi berhubung ada beberapa tragedi selama perjalanan, kami baru sampai di pos pendaftaran Gunung Gede jalur Putri pukul 19.00. Beberapa tragedi diantaranya: Rona yang terpleset, gue yang mendengar suara macan sedang “tiduran” dan ternyata seorang pria dan wanita yang sedang tidur menggunakan matras berselimut sleeping bag, kemudian kaki rona yang gemeteran, gue yang melihat “mba kunti” di pos bayangan, gue yang melihat kepala terbang tapi fraga atau fahmi justru melihat kalau itu monyet sedangkan Rona tidak melihat.

Semua pengalaman diatas membuat gue sadar bahwa, kita sebagai manusia hanyalah bagian terkecil dari isinya. Banyak hal-hal yang tidak pernah kita tahu menjadi tahu. Janganlah pernah menentang alam apalagi merusak keindahannya walaupun hanya seberkas coretan kecil, sebab mereka bisa marah. Take nothing but picture, leave nothing but footprint, kill nothing but time and keep nothing but memories.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes:

<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>