Road Trip Santai Jakarta–Jogja 3D2N Bareng Keluarga
"Melhat Candi Megah, Jajan Pasar, dan Cerita Malam Kota"

Bawa anak dan istri menempuh perjalanan darat ratusan kilometer dari Jakarta ke Jogja sekarang rasanya jauh lebih ramah keluarga. Nggak ada lagi drama macet panjang berjam-jam di jalan arteri pantura. Tol Trans-Jawa bener-bener bikin ritme berkendara jadi santai dan bisa dinikmati tiap kilometernya.
Apalagi semenjak ruas tol baru Jogja–Solo resmi beroperasi penuh dan Gerbang Tol Prambanan dibuka sejak Juli 2025, akses masuk ke Jogja sisi timur jadi luar biasa praktis. Begitu keluar gerbang tol, kita udah langsung disambut dekat sekali dengan area candi.
Berikut catatan perjalanan 3 hari 2 malam kami yang seru, edukatif, dan pastinya kenyang!
Hari 1: Subuh Melibas Tol, Keluar GT Prambanan, dan Hangatnya Gudeg Malioboro
Perjalanan kami mulai jam 5 subuh dari Jakarta. Jam segini jalanan layang MBZ masih lengang, dan si kecil bisa lanjut tidur nyenyak di kursi belakang. Kami sempat melipir dua kali di rest area Tol Trans-Jawa sekadar beli kopi, sarapan ringan, dan meregangkan badan.
Siang harinya, mobil kami arahkan keluar tol melalui Gerbang Tol Prambanan. Hadirnya pintu tol ini bener-bener memangkas waktu; begitu ngetap kartu tol dan meluncur keluar, dalam hitungan menit siluet puncak batu Candi Prambanan sudah kelihatan gagah menjulang.
Sore sekitar jam 14.30–16.30 adalah waktu paling pas buat keliling Prambanan karena mataharinya sudah nggak terik. Begitu masuk pelataran, anak langsung heboh menatap candi utama setinggi 47 meter yang menjulang ke langit.
Sambil jalan santai menelusuri lorong batu, saya ceritakan ke si kecil kalau candi Hindu terbesar di Indonesia ini dibangun sekitar abad ke-9 oleh Rakai Pikatan pada zaman Kerajaan Mataram Kuno. Candi ini dipersembahkan untuk Trimurti (Siwa, Wisnu, dan Brahma). Bagian paling seru buat anak-anak adalah melihat pahatan relief batu di dinding candi yang memuat kisah petualangan Ramayana lengkap dengan kawanan kera Hanoman.
Puas eksplorasi candi, kami langsung meluncur ke hotel untuk check-in, mandi sore, dan rebahan sejenak. Malamnya, kami jalan kaki santai menyusuri trotoar Malioboro. Trip hari pertama kami tutup dengan sepiring gudeg basah hangat beralas daun pisang—manisnya pas, kreceknya gurih pedas, ditemani alunan musik musisi jalanan Jogja yang bikin suasana makin syahdu.
Hari 2: Nostalgia Pasar Ngasem, Napak Tilas Borobudur, Manisnya Gelato, dan Meriahnya Alkid
Pagi-pagi sekitar jam 7, kami sengaja nggak sarapan berat di hotel karena tujuan utamanya adalah berburu jajan pasar di Pasar Ngasem.
Pasar ini punya nilai sejarah yang unik. Dulunya, Pasar Ngasem adalah pasar burung legendaris tertua di Jogja yang lokasinya nempel langsung dengan benteng Keraton dan kompleks pemandian air Taman Sari. Sejak pasar burung dipindahkan, area ini berubah jadi sentra kuliner tradisional yang bersih dan ramah keluarga. Begitu sampai, wangi arang langsung tercium dari deretan penjual apem beras panggang yang dimasak di atas anglo tanah liat. Kami sarapan apem aneka rasa yang masih panas mengepul, ditemani cenil kenyal bersiram gula jawa dan semangkuk bubur sumsum lembut.
Selesai sarapan manis, kami tancap gas ke arah Magelang menuju mahakarya dunia: Candi Borobudur (sekitar 1–1,5 jam perjalanan).
Melihat Borobudur secara langsung selalu bikin merinding. Candi Buddha terbesar di dunia ini dibangun sekitar abad ke-8 oleh Dinasti Syailendra. Hebatnya lagi, ratusan ribu balok batu vulkanik ini disusun rapi tanpa semen perekat sedikit pun, melainkan mengandalkan sistem kuncian batu (interlocking). Kami mengajak anak berjalan santai sambil mengamati stupa-stupa batu berlubang yang berlatar punggungan bukit Menoreh.
Selesai panas-panasan di Borobudur dan kembali ke kota Jogja saat sore hari, kami mampir mendinginkan tenggorokan ke Tempo Gelato. Tempat ini mengusung nuansa bangunan batu bata ekspos klasik ala Eropa yang estetik. Gelatonya lembut dan dibuat alami tanpa pemanis buatan. Variannya banyak banget, mulai dari rasa favorit anak seperti cokelat dan stroberi, sampai rasa unik lokal seperti serai (lemongrass) dan jahe yang segar banget di tenggorokan.
Malamnya, kami menghabiskan waktu di Alun-Alun Kidul (Alkid). Halaman belakang keraton ini bener-bener pusat keramaian malam yang seru buat keluarga:
- Mitos Masangin: Kami mencoba tradisi legendaris Masangin (berjalan dengan mata ditutup kain melintasi celah antara dua pohon beringin kembar di tengah lapangan). Mitosnya, siapa pun yang bisa jalan lurus tanpa melenceng punya hati yang bersih dan niatnya bakal terwujud. Kenyataannya? Menjaga langkah tetap lurus dengan mata tertutup jauh lebih susah daripada yang dibayangkan dan bikin kami sekeluarga tertawa lepas!
- Sepeda Hias Neon: Kami menyewa sepeda tandem beratap lampu warna-warni yang dilengkapi musik untuk keliling alun-alun, sambil sesekali jajan jagung bakar mentega dan wedang ronde hangat di pinggir lapangan.
Hari 3: Borong Bakpia dan Kembali ke Jakarta
Hari terakhir di Jogja kami nikmati dengan tempo santai. Setelah sarapan di hotel dan beres-beres koper, kami melipir sejenak ke toko oleh-oleh untuk beli bakpia basah isi kacang hijau hangat dan bakpia kukus buat keluarga di rumah.
Pukul 10.30 pagi, mobil mulai masuk kembali ke Gerbang Tol Prambanan menuju jalur utama Trans-Jawa. Perjalanan pulang ke Jakarta berjalan lancar tanpa kendala. Rasanya 3 hari 2 malam ini pas banget: anak dapat pengalaman belajar sejarah langsung di alam terbuka, orang tua menikmati santainya berkendara dan kulinernya!
Catatan Kecil untuk Sesama Pejalan Keluarga:
- Manfaatkan GT Prambanan: Kalau tujuan pertamamu adalah candi atau kawasan Sleman timur, pastikan keluar via Exit Tol Prambanan karena jauh lebih cepat dan memotong jalur padat Klaten–Kalasan.
- Saldo e-Toll: Siapkan saldo minimal Rp 1.000.000 di kartu e-toll untuk perjalanan pulang pergi Jakarta–Jogja.
- Tiket Candi Online: Biar nggak buang waktu dan tenaga antre di loket bersama anak, beli tiket terusan Prambanan dan Borobudur secara online terlebih dahulu sebelum berangkat.
Komentar
Berikan tanggapan, pertanyaan, atau catatan dari artikel ini.