Jakarta - Malang Naik Kereta Api

Jakarta - Malang Naik Kereta Api

Kereta api Matarmaja tujuan Stasiun Pasar Senen - Malang Kota berangkat tepat waktu pukul 15.15 WIB. Semua perlengkapan tempur sudah dibawa, seperti: sendal, sepatu, baju, obat-obatan, kamera + tripod, hp, charger, dokumen perjalanan dan dompet serta isinya.

Perjalanan menggunakan Kereta Api menempuh waktu sekitar +/- 16 jam perjalanan. Ini merupakan perjalanan darat pertama terlama yang akan Gue alami. Rasa bosan yang membayangi sudah dikalahkan dengan rasa penasaran perjalanan belasan jam didarat hanyak duduk di kereta bangku ekonomi.

Ternyata cukup membosankan perjalanan naik kereta ekonomi dengan sandaran bangku yang kaku, tidak bisa tidur nyenyak, lutut saling tabrakan dengan penumpang yang berhadapan di depan Gue. Seketika rasa tidak nyaman itu sirna ketika menjelang matahari terbenam dan Gue dapat melihat cantiknya perpaduan gradasi langit semarang. Begitu juga dengan pagi harinya, Gue sendiri tidak tahu sekarang sudah dimana ketika cahaya matahari perlahan masuk lewat jendela kaca kereta.

Stasiun Malang

Day 1

15 menit sebelum sampai di Stasiun Malang Kota, Gue menghubungi salah satu rental motor di Malang yang sebulan sebelumnya sudah di booking. Cukup lama menunggu sekitar satu jam motor sewaan baru sampai di meeting point dekat Patung Singa, seberang Stasiun Malang Kota.

Urusan motor beres, kemudian lanjut ke penginapan. Kebetulan penginapan yang sudah Gue booking ini termasuk murah tapi tidak murahan. Sialnya ternyata waktu untuk checkin jam 12 siang sementara masih harus menunggu 2 jam lagi. Untungya tersedia kamar mandi diluar kamar yang dapat digunakan tamu penginapan dan gue memutuskan untuk mandi pagi biar seger karena perjalanan jauh. Enaknya lagi di tempat penginapan ini Gue bisa menitipkan barang sebelum waktu chekcin, kemudian mencari sarapan disekitar penginapan.

Museum Angkut

Dengan menggunakan motor yang sudah disewa sebelumnya, Gue langusng tarik gas melaju cepat di tengah panasnya Kota Malang dan dipandu dengan google map menuju Museum Angkut+. Waktu itu harga tiket masuk yang di kenakan sebesar Rp. 120.000/orang sudah termasuk tiket museum topeng dan tiket kamera.

Museum Angkut

Museum Angkut+ ini menyimpan banyak koleksi angkutan darat dan beberapa juga ada angkutan udara. Di Museum Angkut+ terdapat beberapa tema kota-kota di Dunia. Seperti Gangster Town dengan suasana Broadway, Inggris, Amerika, Italia dan banyak lainnya.

Kemudian masuk ke Museum Topeng yang lokasinya masih berada satu kawasan dengan Museum Angkut+. Kebanyakan koleksi disini sudah pernah Gue lihat di beberapa museum di Indonesia. Jadi kurang begitu tertarik untuk berlama-lama berada di dalam Museum Topeng.

Puas keliling Museum Angkut+, Gue melanjutkan perjalanan ke Batu Night Spectacular. Sebenarnya lokasi BNS tidak begitu jauh dari Museum Angkut+, tapi karena musim liburan kondisi jalanan jadi macet dimana-mana jadi membutuhkan waktu yang cukup lama dari biasanya. Sore itu di BNS Gue cuma sebentar saja ada disana, entah kenapa kalau melihat dari permainan yang ada disana terasa membosankan dibanding berada di Dufan.

Day 2

Pantai Balekambang

Baru dua hari berada di Malang tapi sudah merasa bosan dengan sudasana kotanya dan kali ini Gue menuju Pantai Balekambang yang lokasinya sekitar +/- 60Km dari Kota Malang. Dapat ditempuh dengan kendaraan roda dua atau roda empat.

Perjalanan ke Balekambang ini di luar ekspektasi Gue sebelumnya dengan kondisi jalanan yang lancar, pantai yang bersih, banyak objek untuk di foto. Tapi semua itu sirna bersamaan dimulainya dengan macet parah sekitar 10Km sebelum sampai di lokasi dan ketika kendaraan sudah tidak dapat bergerak lagi karena macet banyak ulet bulu yang jatuh dari pohon jati di sepanjang pinggir jalan yang membuat Gue mesti hati-hati.

Namanya juga pantai pasti panas, tapi panasnya udara pantai Balekambang berbeda dengan pantai yang lainnya, terasa seakan matahari berada 1 jengkal di atas kepala. Tapi ada satu hal yang mungkin akan mengobati kekecewaan terhadap kondisi Balekembang ini, terdapat hiburan musik gratis disepanjang pinggir pantai. Ada truk besar mengangkut speaker yang ukurannya segede gaban, kemudian volume musik yang di set maksimal yang menjadikan hiburan gratis bagi para pengunjung pantai Balekambang. Tinggal pilih mau musik dangdut, ada. Musik house, ada, musik regge, ada. Musik india, ada.

Batu
Setelah dari Balekambang, perjalanan dilanjutkan memuju Alun-Alun Batu karena kemarin belum sempat dateng ke sini. Taman umum bagi masyarakat Malang dan Batu ini sangat cocok untuk melepas penat santai di sore hari bersama keluarga.

Day 3

Pagi ini diawali dengan sarapan Rawon Nguling yang sudah sangat melegenda bagi setiap wisatawan yang datang ke Malang. Lokasinya ga jauh dari penginapan, cukup jalan kaki sekitar kurang lebih 5 menit sudah sampai, tapi butuh pengorbanan untuk mendapatkan seporsi rawon nguling ini. Buka dari jam 7 pagi - jam 4 sore, antriannya cukup banyak dan panjang.

Ice Cream Oen

Selesai sarapan Gue mau dijemput Kevin (warga lokal Malang) untuk diajak mengujungi beberapa tempat di Malang. Tujuan pertama adalah Ice Cream House Oen. Beruntungnya Gue bisa mencicipi secara gratis es krim yang sangat melegenda ini karena mempertahankan cita rasa dan bangunannya yang dari jaman dulu berdiri sampai sekarang. Gue bisa mendapatkan es krim gratis karena Kevin sudah kenal betul dengan salah satu angota keluarga pemilih Ice Cream House Oen ini.

Untuk urusan rasa, es krim home made ini terasa lembut ketika di sendok dan masuk ke mulut. Berbagai pilihan rasa bisa dipilih disini. Tidak hanya menjual es krim, toko oen juga menjual berbagai cemilan khas sebagai makanan pelengkap untuk disantap bersama es krim.

Setelah menikmati es krim, Kevin kemudian mengajak gue keliling Malang lagi untuk melihat berbagai peninggalan beberapa bangunan tua yang kelestariannya masih terjaga, beberapa model rumah pada jaman penjajahan Belanda sebagian masih tetap eksis berdiri ditengah pesatnya pembangunan modern, serta beberapa gereja tua yang sampai saat ini masih digunakan umat kristiani untuk beribadah.

Untuk mencari oleh-oleh, Gue disarankan Kevin untuk membelinya di Toko Lancar Jaya. Toko ini menyediakan berbagai cemilan khas malang seperti keripik buah dan tempe. Untuk harga relatif terjangkau, mau yang lebih murah lagi? Silahkan datang ke toko sebelahnya. Oh ya gue juga sempat mencicipi minuman khas Malang, "Sari Apel Malang" yang di belikan Kevin. Kebetulan cuaca Malang sedang panas dan sangat cocok minum minuman Sari Apel Malang yang seger.

Seakan masih belum puas dengan kehidupan siang hari Kota Malang, Kevin mengajak gue untuk ngopi ngopi ganteng malam hari di salah satu cafè yang punya cabang di Batu dan Jogja. Katanya cafè ini merupakan tempat nongkrong anak gaul Kota Malang.

Day 4

Candi Singasari

Hari terakhir di Malang setelah checkout dari hotel, Gue di jemput Kevin dan ditawari untuk mampir sebentar ke rumahnya untuk nitip tas sebelum ke Stasiun kembali ke Jakarta (via Bandung). Kemudian diajak ke Candi Singasari yang merupakan candi Hindu-Buddha peninggalan bersejarah Kerajaan Singasari. Lokasinya berada di Jl. Kertanegara, Singosari, Malang, Jawa Timur, sekitar 10-12 Km dari Kota Malang. Hanya terdapat satu Candi dan beberapa artefak seperti patung Hindu-Buddha.

Bakso President

Sebelum ke stasiun mampir sebentar untuk makan siang di Bakso President yang merupakan salah satu kuliner khas Kota Apel ini. Cita rasa baksonya yang original dan dagingnya yang lembut membuat siapa saja yang makan pasti ketagihan untuk mencoba lagi, selain itu lokasinya yang berdekatan dengan rel kereta api menjadikan Bakso President ini unik dan khas.

Hujan gerimis sore itu mengantarkan Gue kembali ke Jakarta menggunakan kereta api ekonomi lagi. Perjalanan ke Malang kali ini dipenuhi dengan kearifan dan keramah-tamahan warga lokal seperti Kevin yang siap membantu para wisatawan yang datang ke Kota Malang. Masih belum puas rasanya untuk menjelajahi Kota Malang dan sekitarnya, emoga bisa kembali lagi ke Malang dengan cerita perjalanan yang berbeda.

Cerita Perjalanan Lainnya